Tuesday, 25 October 2011

Mencari atau Menjadi? (part 2)

Masih goyah dan rapuh. Tak kuasa kakiku menahan segala beban. "Aku hanya perlu bertahan sebentar lagi", berkali-kali kuucapkan pada diriku sendiri. Aku masih dalam tahap belajar. Belajar berdiri dan menopang. Menjadi pijakan.

Aku tak tahu apa yang orang lain pikirkan, melihat keadaan kami yang memburuk ini. Memburuk seiring berjalannya waktu menuju kehilangan pegangan. Beberapa hari kulalui, dan aku tersadar. Hampir tidak mungkin untuk mencari pijakan lain. Memang, ada beberapa pijakan yang lumayan kokoh di antara kami. Yah, sekitar 2 pijakan lain selain diriku yang menurut orang lain bagus. Akan tetapi, ada beberapa orang yang mengatakan salah satu pijakan itu tidak cocok dengan kaki-kaki kami. Pijakan itu terlalu mudah bergoyang dibawah kaki kami yang lemah, bisa saja suatu saat pijakan itulah yang akan menjatuhkan kami. Pijakan yang satu lagi sepertinya bahkan tidak ingin menjadi pijakan kami. Entahlah, mungkin dia merasa belum siap. Namun bisa saja perkiraanku salah.

Bagaimana denganku? Orang bilang aku cukup kuat untuk menjadi pijakan. Tapi tetap, aku belum berani. Tanggung jawab itu terlalu besar. Oke, kuakui hatiku pengecut. Namun menopang bukanlah pekerjaan yang mudah. Aku masih perlu banyak belajar. Ah, andai saja pijakan yang seharusnya ada tidak akan pergi. Aku tidak perlu khawatir dan takut akan keadaan ini. Yah, setidaknya aku ingin lebh banyak belajar dan belajar padanya. Belajar pada pijakan yang lebih mantap. Semoga bisa menguatkan pijakanku.

Aku tidak berharap menjadi pijakan. Aku takut, malah. Namun aku tidak akan lari dari tanggung jawab jika ternyata--kemungkinan terburuknya--aku dijadikan pijakan. Aku hanya mampu berdoa semoga segalanya siap pada waktunya.

0 sentilan dan masukan:

Post a Comment